Potensi dan Persebaran Sumberdaya Energi Baru dan Terbarukan

Potensi Energi baru dan Terbarukan

Beberapa potensi dan pesebaran energi baru dan terbarukan di Indonesia seperti: Energi Surya, Panas Bumi, Angin, Air, Biomasa, dan Biofuel

Tenaga surya ini menggunakan photovoltaic atau sel surya. Sel surya merupakan sebuah alat semikonduktor yang dapat mengubah energi matahari menjadi energi listrik. Jenis energi ini menggunakan sistem pemusatan energi concentrated solar power (CSP) untuk memfokuskan energi matahari ke satu titik tertentu untuk menggerakkan generator atau yang biasa disebut dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Permbangunan PLTS pertama dan terbesar menjadi percontohan yang ada di
Indonesia dilakukan di Bali. Berikut beberapa lokasi yang menjadi lokasi
PLTS di indonesia:
1. PLTS di Kabupaten Karangasem, Bali dengan kapasitas 1 MW 
2. PLTS di Kabupaten Bangli, Bali dengan kapasitas 1 MW.
3. PLTS di Pulau Gili Trawangan (NTB) berkapasitas 600 kWp.
4. PLTS di Pulau Gili Air (NTB) dengan kapasitas 160 kWp.
5. PLTS di Pulau Gili Meno (NTB) dengan kapasitas 60 kWp.
6. PLTS di Pulau Medang, Sekotok, Moyo, Bajo Pulo, Maringkik, dan Lantung dengan total kapasitas 900 kWp.
7. PLTS Raijua (Kabupaten Sabu Raijua, NTT) dengan kapasitas 150 kWp.
8. PLTS Nule (Kab. Alor, NTT) dengan kapasitas 250 kWp.
9. PLTS Pura (Kab. Alor, NTT) dengan kapasitas 175 kWp.
10. PLTS Solor Barat (Kab. Flores Timur, NTT) dengan kapasitas 275 kWp.
11. PLTS Morotai (Maluku Utara) dengan kapasitas 600 kWp.
12. PLTS Kelang (Maluku) dengan kapasitas 100 kWp.
13. PLTS Pulau Tiga (Maluku) dengan kapasitas 75 kWp.
14. PLTS Banda Naira (Maluku) (Maluku) dengan kapasitas 100 kWp.
15. PLTS Pulau Panjang (Maluku) dengan kapasitas 115 kWp.
16. PLTS Manawoka (Maluku) dengan kapasitas 115 kWp.
17. PLTS Tioor (Maluku) (Maluku) dengan kapasitas 100 kWp.
18. PLTS Kur (Maluku) dengan kapasitas 100 kWp.
19. Kisar (Maluku) dengan kapasitas 100 kWp.
20. PLTS Wetar (Maluku) dengan total kapasitas 100 kWp.
21. PLTS Kabaena (Sulawesi Tenggara) dengan kapasitas 200 kWp
22. PLTS Desa Oelpuah (Kupang Tengah) dengan kapasitas 5 MWp

Air merupakan salah satu sumber energi yang dapat digunakan sebagai energi alternatif. Air digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) seperti air terjun atau air yang dibendung. Energi air ini menggerakkan turbin dan mengubahnya menjadi energi listrik. Pemanfaatan energi air juga digunakan melalui tenaga mikro hidro, yang hampir sama dengan PLTA. Pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) dapat dibangun di daerah yang yang memiliki sungai berarus kecil. PLTMH ini memiliki kelebihan dibanding dengan PLTA. Kelebihan tersebut terutama dalam hal biaya yang relatif murah dan lebih aman terhadap lingkungan. PLTA yang ada milik Indonesia tersebar di daerah sebagai berikut:
1. PLTA Sigura-gura = Sumatera Utara.
2. PLTA Maninjau = Sumatera Barat.
3. PLTA Jatiluhur = Jawa Barat.
4. PLTA Tuntang = Jawa Tengah.
5. PLTA Garung = Jawa Tengah.
6. PLTA Sempor = Jawa Tengah.
7. PLTA Wonogiri = Jawa Tengah.
8. PLTA Lodaya = Jawa Timur.
9. PLTA Sengguruh = Jawa Timur.

10. PLTA Wlingi Raya = Jawa Timur.
11. PLTA Karangkates = Jawa Timur.
12. PLTA Tes = Bengkulu.
13. PLTA Tonsen = Sulawesi Utara.
14. PLTA Sadang = Sulawesi Utara.
15. PLTA Riam Kanan = Kalimantan Selatan.
16. PLTA Sentani = Irian Jaya


Energi angin dapat dimanfaatkan sebagai pembangkir listrik tenaga angin atau yang dikenal juga dengan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). Pemanfaatan energi angin ini menggunakan turbin angin. PLTB yang pertama dikembangkan di Indonesia adalah di Pantai Saman, Yogyakarta. Daerah yang dapat digunakan sebagai PLTB adalah daerah yang memiliki kecepatan angin relatif konstan, yaitu kecepatan rata – rata tahunan sebesar 3,4 – 4,5 m/ detik serta arah angin yang cenderung tidak berubah – ubah. Beberapa wilayah di Indonesia yang memiliki potensi sebagai ladang angin adalah jawa bagian selatan, sulawesi, dan nusa tenggara timur.

Energi panas bumi (geothermal) adalah energi panas yang tersimpan dalam batuan di bawah permukaan bumi. Sebagai daerah vulkanik, wilayah Indonesia sebagian besar kaya akan sumber energi panas bumi. Jalur gunung api membentang di Indonesia dari ujung pulau Sumatera, sepanjang pulau Jawa, Bali, NTT, NTB menuju kepulauan Banda, Halmaera dan pulau Sulawesi. Hal tersebutlah yang menyebabkan pada wilayah ini terdapat potensi energi panas bumi yang dimanfaatkan 

Biomassa merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk sumber daya hewan dan tumbuhan serta limbah yang dihasilkan yang memiliki potensi energi. Contoh biomassa adalah pepohonan, tanaman, rumput, ubi, limbah pertanian, limbah hutan, dan kotoran ternak. Pemanfaatan biomassa dapat dibedakan menjadi beberapa kategori, yaitu:

1) Biodiesel, sumber energi biomassa cair yang bahan bakunya berasal dari kelapa sawit, jarak dan kedelai.
2) Bioetanol, sumber energi biomassa cair yang bahan bakunya berasal dari ubi kayu, jagung dan sorghum.
3) Biogas, sumber energi biomassa gas yang bahan bakunya berasal dari berbagai limbah dan sampah organik yang difermentasikan dan menghasilkan gas metana.
4) Biobriket, sumber energi biomassa yang bahan bakunya berasal dari sekam, arang sekam, serbuk kayu, serbuk gergaji dan limbah biomassa lainnya yang diolah dalam bentuk padat (briket).

Pembangunan pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBm) di Indonesia mulai banyak dikembangkan terutama di wilayah Sumatera, Kalimantan dan Papua. PLBTm di wilayah sumatera dan kalimantan memanfaatkan limbah sawit, sedangkan di Papua menggunakan limbah sagu.

Advertisements

Biodiesel sendiri merupakan salah satu bentuk populer dari biofuel yang kini terus dikembangkan pemanfaatannya, karena bukan saja mendukung peningkatan porsi EBT pada bauran energi nasional, tetapi juga memiliki pengaruh positif pada beberapa aspek ekonomi nasional. Bahan Bakar Nabati (BBN) yang digunakan dalam pelaksanaan program mandatori Biodiesel mampu menghemat devisa dan mengurangi ketergantungan terhadap BBM.

Pemanfaatan biodiesel juga diyakini mampu meningkatkan nilai tambah industri hilir kelapa sawit, stabilitasi harga CPO, penyerapan tenaga kerja dalam negeri, pengurangan emisi gas rumah kaca dan peningkatan kualitas lingkungan